Di benakku masih tersimpan rapi sebongkah peristiwa
Tentang perjalananmu kala bahagia dan kecewa
Bahumu yang dulu kekar, kini legam terbakar mentari
Keriput tulang pipimu menjadi bukti segala perjuanganmu
Ku tahu Ayah kau begitu lelah dengan perjalananmu kala itu
Namun kau masih tetap berjalan meski terkadang langkahmu tertahan
Kau yang tak pernah memberikan sedikit cela pada bibirmu untuk mengucap
kesah
Bagai hujan yang selalu menyamarkan rasa sakitnya kala jatuh di bumi
Kini, aku menyimpan rindu yang teramat menyesakkan dadaku
Tak banyak yang bisa ku lakukan
Hanya melangitkan harapan untuk pertemuan kita di suatu sore sunyi
Memakamkan rindu yang telah lama bertandang
Sembari menceritakan
kisah perjalananku yang mungkin tak sehebat langkah kakimu