Senin, 07 Desember 2015

Teruntuk Tuhan




Beribu syukur selalu kulangitkan kepada-MU yang telah menitipkanku kepada seorang wanita yang luar biasa, yang kupanggil dengan sebutan ibu sejak 16 tahun silam. Seorang ibu yang tak pernah mengeluh dengan lelahnya, menguatkan diri dengan segala godaan di dunia fana, memperkokoh dirinya untuk menyemangati hari-hariku, mempersediakan telinganya hanya untuk sekedar mendengarkan ocehan cerita yang kudapatkan disetiap harinya.
Ibu selalu saja memantaskan diri untuk menjadi panutan kehidupanku, walau sebenarnya dia sudah terlalu luar biasa dalam jiwaku.
Pernah ku menangis di pundaknya mengadukan segala harap yang tak pernah meredap, kemudian terucap dari bibirnya bahwa ia sudah begitu bangga dengan usahaku, walau sebenarnya sudah kutemui rasa kecewa ertandang dimatanya.
Kepada-MU Tuhan, terimakasih untuk ibu yang begitu luar biasa dengan segala kesederhanaannya

Minggu, 06 Desember 2015

menjadi salah satu.


“mengapa mesti ada perpisahan jika pertemuan itu mendamaikan, mengapa mesti ada perselisihan jika kemesraan itu membahagiakan, mengapa mesti ada kesedihan jika rindu itu menggembiarakan.”
Dimalam yang gelap ini aku merasa sepi, sunyi, dan masih tetap dengan kesendirianku. Sempat merasa iri dengan hewan malam yang saling bersahutan, mempamerkan betapa bahagia dan ramainya dunia mereka.
Kuintip langit malam dari jendela kamar, melihat jejeran bintang yang berkedap-kedip dengan kerlipnya. Menunjukkan walaupun ia berada berkilometer jauhnya dari kamarku namun ia tetap mampu memperlihatkan cahaya terang dalam dirinya.
Aku  ingin menjadi salah satu dari bintang itu, menjajarkan diri diantara beribu bahkan jutaan bintang bersinar terang.
Aku ngin menjadi salah satu dari bintang itu, memiliki cahaya terang yang dapat kusampaikan kepada manusia.
Aku ngin menjadi salah satu dari bintang itu,  menerangi diri sendiri tanpa menggantungkan cahaya kepada yang lain.
Aku ngin menjadi salah satu dari bintang itu, menjadi pemeran utama pameran langit kala malam tiba, dipandangi manusia dengan binar matanya.
Aku ngin menjadi salah satu dari bintang itu, dan aku berjanji akan kupertahankan sinarku, memperkuat diri agar tak redup .
  

Hay kak Ara... jujur saja aku selalu bingung bagaimana mengawali sebuah tulisan, mencari kalimat yang tepat agar pembaca tak menganggap tulisanku ini monoton. Apalagi kalau nulis surat cinta -___- mungkin aku akan beberapa kali menyobek kertas karena menganggap kalimat pertama yang aku gunakan tak mengesankan, apalagi untuk kalimat-kalimat selanjutnya -__-
Tapi kali ini anggap aja kalimat diatas udah bagus untuk mengawali tulisan ini ya kak..
 Ketahuilah kak, aku hanya seorang perempuan dini, masih jadi anak SMA yang terjebak oleh lika-liku cinta yang mulai berjalan dan merasakan patah hati sebab aku terlalu mempercayai dia yang telah mengajariku perihal memperjuangkan tanpa diperjuangkan.
Aku sering banget stalking twitternya kak Ara , Cuma sekedar untuk menyakinkan kalau hati ini tak pernah merindu,patah hati,dan jatuh cinta sendirian.  Tak jarang setelah baca twitnya kak Ara aku bisa flashback sama temen TK yang dulu pernah lirik-lirik an gitu , ya semacam cinlok deh kak :D
Terimakasih kepada kak Ara, perempuan yang selalu berbahagia dengan pasangannya tanpa memperdulikan jarak , mengajari pada mereka yang punya pasangan bahwa jauhnya jarak tak akan pernah menjauhkan hati yang sudah terlanjur dijatuhkan pada seseorang yang sudah dianggapnya pantas berada didekatnya, menjadi air untuk dahaganya, menjadi rumah untuk terik dan hujannya, menjadi kanan untuk kirinya.
Terimakasih kepada kak Ara, perempuan yang mengajari bagaimana meniadakan patah hati dan belajar jatuh cinta lagi, menyadarkan bahwa hidup tak akan selamanya duka, sebab luka pasti akan malu kemudian beranjak pergi saat hati mulai berbahagia dengan cinta yang sudah kian lama didamba. Mensyukuri apa-apa yang telah diberikan-Nya tanpa harus menangisi yang bukan haknya.
Terima kasih kepada kak Ara, perempuan yang telah menginspirasi perempuan dini ini untuk menulis,sekedar bercerita kepada kerta putih tentang apa yang dirasakan hati, agar tak kowar-kowar kepada mereka yang bisa saja hanya ingin tahu dan kemudian menertawakan. Membuatku paham bahwa menjaga lisan dan mengadu kepada-Nya ternyata make i feel subhanallah J
Kepadamu kak.. aku tak pernah bermaksud sok kenal atau hanya ingin tenar karena dengan lancangnya menulis dengan menyertakan namamu disini, aku hanya ingin berbagi apa yang ku ketahui tentangmu, tentangmu bersama laki-lakimu, tentangmu yang terlalu pandai menetralisir patah hati,tentangmu yang sekejab saja bisa membuat jatuh cinta, tentangmu yang tak kunjung follback twitterku :D (habis ini difollback ya kak, hehe )
Ohya, makasi juga untuk kritiknya yang kemarin kak, sekarang paham banget sama ‘sembari’ dan ‘serambi’ :D bisa deh tu kapan-kapan kita bikin film judulnya ‘antara serambi dan sembari’ hehe.
Selamat bermanja dengan senja yang tak pernah luput dari kagum J